Legenda Desa Dempel

Desa Dempel sejarah asal-usulnya identik dengan kehidupan seorang tokoh sesepuh bernama Mbah Kemis. Konon cerita Beliau berasal dari Dukuh Lorok, Desa Geneng, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, pada saat itu Mbah Kemis hanya bersama istrinya bernama Mbah Ratiyem yang lari dari kejaran penjajah Belanda dengan tujuan mengungsi di tempat yang aman. Di tempat ini Mbah Kemis dan istrinya membuat gubug kecil terbuat dari kayu dan bambu serta atap dari ilalang untuk pondokan atau tempat berteduh, ternyata di tempat inilah Mbah Kemis dan istrinya merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Tempat dengan pondok kecil yang dibuat berteduh oleh Mbah Kemis dan istrinya tersebut yang sekarang dinamakan Pondok (yang sekarang merupakan bagian/nama salah satu dusun di desa Dempel).

Beberapa tahun kemudian ada serangan tentara Belanda lagi dari arah barat yaitu dari Semarang, seluruh penduduk berlarian ke arah timur untuk mencari tempat persembunyian yang aman. Sebagian besar penduduk bersembunyi berkelompok di balik pohon-pohon yang sangat besar diantaranya pohon putat, pohon trembesi, pohon randu alas dan sebagainya. Pada saat terjadi peperangan dengan tentara Belanda pohon-pohon besar tersebut digunakan untuk tempat sembunyi dengan amping-amping pohon atau dempel-dempel pohon besar tersebut agar terhindar dari tembakan tentara Belanda.

Dari kejadian itulah para tokoh/sesepuh saat itu kemudian memberikan sebuah nama pada pedukuhan tempat bersembunyi atau amping-amping/dempel-dempel yang kemudian tempat tersebut diberi nama Dukuh Dempel (yang sekarang menjadi Desa Dempel), pemberian nama ini terjadi sekitar akhir abad ke-18.

Dukuh Pondok yang pada awalnya berdiri sendiri dipimpin seorang lurah bernama Mbah Lurah Hardjo Dijoyo, sedangkan Dukuh Dempel dipimpin seorang lurah bernama Mbah Lurah Parmo Widjoyo. Setelah kedua lurah tersebut meninggal dunia sekitar awal abad ke-19 diganti dengan seorang lurah baru yaitu setelah Dukuh Pondok dibrengket (digabung) dijadikan satu dengan Dukuh Dempel ditambah dengan dukuh baru (kalau sekarang istilahnya pemekaran) yaitu Dukuh Limberejo. Dukuh/Desa dari hasil penggabungan tersebut diberi nama Desa Dempel dan dipimpin oleh seorang lurah bernama Mbah Lurah Mangun Widjoyo Yahmin. Sehingga pada saat itu Desa Dempel terdiri dari 3 dukuh yaitu :
1. Dukuh Pondok dipimpin seorang Bekel bernama Bekel DJoyo Yahyo;
2. Dukuh Limberejo dipimpin seorang Bekel bernama Bekel Somo Sastro;
3. Dukuh Dempel Krajan dipimpin seorang Kamituwo bernama Kamituwo Tardi Posono yang tugasnya kecuali sebagai Kamituwo juga sebagai Wakil Lurah.

Pada tahun 1939 Lurah Mangun Widjoyo Yahmin meninggal dunia, kemudian diadakan pemilihan lurah. Pada saat itu Lurah dipilih langsung oleh rakyat dengan sistem memasukkan biting (lidi) ke dalam bumbung yang dibuat dari bambu dari masing-masing calon lurah, yang mendapat biting terbanyak dinyatakan sebagai calon lurah yang terpilih. Dan waktu itu yang terpilih menjadi Lurah Desa Dempel adalah Mbah Djudarman Alias Sastro Kartono. Lurah Sastro Kartono memimpin dari tahun 1939 s/d tahun 1972. Kemudian diangkat Penjabat Sementara Lurah dari tahun 1972 s/d 1976 , bernama L. Paridjo dari salah satu pegawai Kejaksaan Negeri Purwodadi.

Pada tahun 1977 diadakan pemilihan lurah di antara 2 orang calon yaitu :
1. Bp. L. Paridjo ( Pjs. Lurah Dempel );
2. Bp. Soetoyo ( Carik Desa Dempel ).
Dan yang terpilih menjadi lurah adalah Bp. Soetoyo (memimpin dari 1977-1987).
Pada saat itu berlaku Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979 bahwa masa jabatan Lurah adalah 8 (delapan) tahun dan sebutan Lurah diganti menjadi Kepala Desa.

Pada tahun 1987 diadakan pemilihan Kepala Desa lagi dengan calon Kepala Desa sebagai berikut :
1. Bp. Natirto
2. Bp. Damin Suprodjo
3. Bp. Efendi
4. Bp. Suwadji
Dan yang terpilih menjadi Kepala Desa Dempel adalah Bp. Natirto, menjabat dari 1988-1998 ( 2 tahun adalah ekstra/tambahan karena pemerintah pusat ada gangguan keamanan yang saat itu dikenal pemerintahan orde baru, Presiden Soeharto lengser sehingga berdampak pada pemerintahan yang ada di bawahnya, sehingga periode pemerintah desa yang seharusnya 8 tahun menjadi molor.

Kemudian pada pemilihan kepala desa berikutnya tahun 1998 yang dikuti oleh 5 calon Kepala Desa yakni :
1. Bp. Suritno
2. Bp. Natirto
3. Bp. Muhadi
4. Bp. Gunadi
5. Bp. Damun
Pada periode ini Bp. Natirto terpilih kembali untuk masa jabatan yang kedua, namun sebelum masa jabatan berakhir Kepala Desa Natirto tepatnya pada tahun 2005 diberhentikan oleh Bupati Grobogan. Selanjutnya diteruskan oleh Penjabat Sementara Kepala Desa Bp. Puryanto yang ditunjuk oleh Bupati Grobogan atas usul Camat Karangrayung sampai dengan tahun 2007.

Pada tahun 2007 Pj. Kepala Desa menyelenggarakan pemilihan kepala desa diikuti 6 (enam) calon kepala desa sebagai berikut :
1. Bp. Hutomo;
2. Bp. Mulyadi;
3. Bp. Jaman;
4. Bp. Sukandar;
5. Bp. Damun;
6. Bp. Eko Yuliyanto.
Dan yang terpilih menjadi Kepala Desa adalah Bp. Mulyadi (menjabat dari tahun 2007-2013).

Pada tahun 2013 diadakan pemilihan Kepala Desa kembali yang hanya dikuti oleh 2 (dua) kandidat calon Kepala Desa yaitu :
1. Ibu Hartini;
2. Ibu Suparti.
Dan yang terpilih menjadi Kepala Desa adalah Ibu Hartini (menjabat dari tahun 2013 s/d sekarang) dan akan beralhir tahun 2019.

Sepanjang sejarah Kepala Desa Dempel dari jaman penjajah Belanda/sejak terbentuknya Desa Dempel telah dipimpin oleh 6 (enam) Kepala Desa definitif dan 2 (dua) Kepala Desa yang ditunjuk sebagai Pjs, sedangkan Carik (Sekretris Desa) Dempel ada 6 (enam) sampai sekarang yaitu :
1. Mbah Carik Wongso Wijoyo;
2. Mbah Carik Sastro Kartono;
3. Mbah Carik Sunarto;
4. Mbah Carik Djojo Pranoto;
5. Mbah Carik Soetoyo;
6. Bp. Sekdes Hutomo sampai 2016

Kemudian di bawah Sekretaris Desa secara berkesinambungan terjadi pergantian perangkat desa dalam jabatan Kamituwo, Bekel, Kebayan yang sekarang disebut Kepala Dusun, Kepala Urusan, dan Kepala Seksi.
Sedangkan data Kepala Desa dan Perangkat Desa Dempel yang terakhir dan masih menjabat hingga sekarang adalah sebagai berikut :
1. Kepala Desa : Hartini (mulai tahun 2013-2019);
2. Kasi Pemerintahan : Siswoyo (mulai tahun 1993);
3. Kasi Kesejahteraan : Gunadi (mulai tahun 1991);
4. Kasi Pelayanan : Andi Handoko (mulai tahun 2009);
5. Kaur TU dan Umum : Marjuni (mulai tahun 1991);
6. Kaur Keuangan : Panggih Purwanto (mulai tahun 2005);
7. Kaur Perencanaan : Sakti Wahyono (mulai tahun 1991);
8. Kadus Dempel : Susanto (mulai tahun 2009);
9. Kadus Limberejo : Kusrin (mulai tahun 1993);
10. Kadus Pondok : Ari Haryono (mulai tahun 2009);
11. Staf : Tri Mulyono (mulai tahun 2005);
12. Staf : Mashudi (mulai tahun 2005).

(Disusun oleh Siswoyo dengan Nara Sumber : Mbah Hutomo Mantan Sekdes, Mbah Jubari, sesepuh desa, Mbah Somomarkiman, tokoh masyarakat, Mbah Suwardi Somo Sastro, tokoh mayarakat)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar